Archive for the Samudera Biru Category

Cinta Adalah Keseimbangan

Posted in Samudera Biru with tags , on April 7, 2008 by boday


Cinta, kasih sayang dan ikhlas adalah sebuah keseimbangan…
alam semesta yang begitu indah selalu memperlihatkan cinta,kasih sayang dan ikhlasnya.. namun sering kali mata kita tertutup karena sebuah emosi sesaat dan nafsu keserakahan..

Sejumput Doa

Posted in Samudera Biru on November 21, 2007 by boday

Tetapkan spirit-Mu itu tanpa batas kepadaku..
Pelukkan rasa ikhlas-MU itu kepadaku tanpa syarat..
aku tak mampu untuk membuat ikhlas ataupun menguatkan spirit atas diriku karena semua itu adalah milik-Mu..
Segala daya upaya adalah milikmu..
Ku hanya belajar menjalani dan berusaha selanjutanya adalah milik-Mu..

Rengkuhan ikhlas-MU yang khan membawaku menuju tanpa batas..
Tegur sapa sayangMu khan membuatku semakin memahami akan cintaMU..
Keajaiban-keajaiban kecil yang tunjukkan padaku membuatku semakin menyayangiMu..
Tenangkanlah jiwaku dalam rengkuhan Ikhlas dan sayangMu tanpa jeda dan batas fatamorgana

Sistem dan Kebebasan Berpikir

Posted in Samudera Biru on March 16, 2007 by boday

Kita diberi hidup hanya sekali, waktu yang selalu menemani kita tidak bisa berjalan mundur, alam semesta begitu luas langit bumi beserta isi didalamnya, namun mari kita pertanyakan pada diri kita sendiri.. dari sekian luas arena semesta yang diberikan ke kita dengan waktu yang begitu terbatas yang kesempatannya diberikan ke kita, seberapa banyak yang telah kita nikmati ?

Dunia ini begitu luas, begitu banyak yang “seharusnya” bisa kita perbuat,namun mari kita pertanyakan kembali, sudah berapa banyak yang telah kita perbuat?

Sering kita tidak bisa berbuat banyak dari yang “seharusnya” hanya karena kita terbatasi oleh sistem, hanya karena kita merasa tidak berani keluar dari sistem sehingga kita lebih merasa nyaman mengikuti sistem yang telah ada karena sistem yang telah ada itu di amini oleh lingkungan kita sebagai kesepakatan bersama meskipun kita merasa sistem itu telah membelenggu kita. Pertanyaannya, apakah sistem yang kita jalani ini benar-benar kita sadari sudah match dengan yang ada dalam diri kita? atau kita memang “terpaksa” berkompromi dengan diri untuk tetap mengikuti jalan dan sistem yang ada karena kita tidak berdaya untuk membuat sistem sendiri?

Merasa tidak berdaya menurutku itu masih bisa ditolerir tapi yang kritis apabila kita tidak mau merubah atau membuat sistem yang sesuai dengan kita karena kita “tidak mau”!!!

Ketika kita terlarut dalam sistem yang telah terbentuk cenderung kita akan mengikuti dan akan terjadi pergulatan dalam batin kita apakah kita cocok dengan sistem yang ada apa tidak. Ketika kita bisa berkompromi itu tidak akan menjadi soal, walaupun level kompromi kadang ada batasnya.

Hal yang menurutku penting adalah tidak soal apakah kita mengikuti sistem yang ada, berkompromi ataupun terpaksa mengikuti sistem yang ada selama “PIKIRAN KITA MASIH BISA BERPIKIR MERDEKA”.

Jangan sampai sistem yang ada dilingkungan kita mengkebiri pikiran kita, karena pikiran, proses berpikir,output ataupun outcome dari pikiran kita adalah hal esensi yang kita punyai sebagai manusia.

Keraguan dan Nyali

Posted in Samudera Biru on February 19, 2007 by boday

Ketika lingkungan kita sudah memberikan “sign yes” dengan apa yang akan kita tempuh ternyata itu tidak cukup, karena sering kali keraguan itu menjadi acesoris soulmate dari yang namanya sebuah keputusan, keraguan akan terus mendampingi dan satu hal yang bisa memeluk keraguan itu untuk diyakinkan yaitu sebuah keyakinan dan nyali.

Berhargakah sehirup nafas kita?

Posted in Samudera Biru on December 5, 2006 by boday

Sekali-kali mari kita coba untuk “mencelupkan” kepala dan tubuh kita kita kedalam air biarkanlah sejenak bagaimana reaksi tubuh kita ketika tidak bisa bisa menghirup udara yang gratis, biarkanlah sejenak pikiran kita bereaksi ketika kita tidak bisa menghirup udara, apa yang akan kita rasakan ?

Tubuh akan bereaksi, pikiran akan bereaksi ada rasa panik, ada rasa penat, ada rasa takut, ada rasa “butuh nafas”, ya… tubuh dan pikiran kita berontak untuk minta menghirup nafas barang sehela.

Nafas yang selama ini setiap waktu kita lakukan yang sering tanpa kita sadari, suatu “fasilitas” yang kita nikmati setiap waktu namun sering tanpa kita sadari begitu perlunya dan butuhnya kita akan nafas..

Sering kita mengeluh dengan beban-beban kita yang terus menerpa dalam kehidupan kita sehari-hari… pertanyaannya lebih berat manakah beban yang kita hadapi saat ini dibanding “rasa berat (baca:beban)” ketika kita tenggelam dalam air dan butuh menghirup udara dan bernafas…??

Namun, kita masih dikasih udara “gratis” untuk kita hirup setiap saat, suatu kebutuhan “solusi beban” yang diberikan cuma-cuma dan kita nikmati setiap saat namun tanpa kita menyadarinya..

Tidak bersyukurkah kita dengan sehela nafas yang mengalir dalam tubuh kita dengan “gratis” setiap saat ?

Bismillahirohmanirrohim, simple ?

Posted in Samudera Biru on October 3, 2006 by boday

Bismillahirrohmanirrohim, Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Setiap dalam kita mau mengawali aktivitas kita disarankan untuk membaca,menyebut “Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, suatu kalimat yang terlihat simple tapi kalau kita amati lebih dalam kalimat itu bukan kalimat yang terlihat simple tapi kalimat yang sangat luar biasa, karena kita diperbolehkan bahkan disarankan dalam melakukan sesuatu kita menggunakan/atas nama Allah penguasa Alam.

Bagaimana kalau kita diberi suatu memo oleh seorang presiden yang didalamnya berisi bahwa kita boleh melakukan apa saja atas nama Presiden. Betapa besar “power” yang akan kita dapat dari surat memo presiden tersebut.

Bagaimana kalau kita diberi “memo” dengan menggunakan atas Nama Allah sang penguasa alam semesta, berapa besar “power” yang akan kita dapat?

Dimanakah batas alam semesta ?

Posted in Samudera Biru on July 13, 2006 by boday

Dimanakah batas alam semesta ? Mampukah kita menjelajahinya ?

Alam pikiran kita sering kali menjelajah alam semesta untuk “mengkristalkan” alam ide menjadi realitas yang bisa dinikmati fisik. Adanya HP, Komputer, Jembatan, Bangunan, Pesawat dan yang lain-lainnya adalah hasil kreasi dari otak manusia yang “berani berpikir” dan menjelajah tantangan masa depan dan impian berkreasi menjawab tantangan dan menguak “misteri” yang kadang dianggap tabu oleh sebagian orang yang bahkan orang biasa pun tak “berani berpikir” untuk memikirkannya.

Nabi Muhammad, ngapain repot-repot merubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat beradap?
New Isaac Newton, ngapain repot-repot mikirin “kenapa buah apel selalu jatuh ke bawah?”
Albert Einstein, ngapain repot-repot mikirin alam relativitas ?
Steven Hawkins, ngapain repot-repot mikirin tentang hubungan masa waktu dan blackhole ?

Idealiskah ? mencari popularitaskah ? hanya untuk mencari makankah ?
Apapun alasannya menurut saya tidak ada yang salah, namun satu hal yang bisa dipetik dari tokoh-tokoh tersebut, mereka membuktikan bahwa “manusia diberi kemampuan” untuk menguak misteri alam semesta, manusia diberi kebebasan untuk menjelajah alam pikirannya bahkan “meminiaturkan” sebagian rahasia alam semesta menjadi sebaris rumus.

Tapi sadar diberi kemampuan itupun tidak cukup, perlu adanya keberanian untuk membuktikan “kemampuan” tersebut.

Dimanakah batas alam semesta ?
Jawabannya menurut saya adalah Sejauh mana kita mau dan berani menjelajah alam pikiran kita.


salam
budi



We Know God when we know something we don’t know

Posted in Samudera Biru on June 23, 2006 by boday

Kemarin saya ngobrol sama teman ada pernyataan yang cukup menarik..

We know God when we know something we don’t know..

Sering kali kita mengingat Tuhan ketika kita memasuki area dimana area kita tidak tahu.

Dalam pemahaman saya ada beberapa klasifikasi dalam pemahaman tahu dan tidak tahu:
1. Kita Tidak Tahu apa yang kita tahu
2. Kita tidak tahu apa yang kita tidak tahu
3. Kita tahu apa yang kita tahu
4. Kita tahu apa yang kita tidak tahu
5. Kita tidak tahu apa-apa (we don’t know anything)

sejauh sampai saat ini klasifikasi ke 5 ini menurut saya the top of the level, ketika merasakan bersentuhan dengan area kebesaran dan kekuasahaan tuhan maka akan timbul rasa kita tidak tahu apa-apa

We don’t know anything adalah pemahaman puncak tentang tahu dan tidak tahu..
Dua kalimat ini kalau disambungkan membuat ada benang merah yang menarik..

We know God when we know something we don’t know..
We don’t know anything

Benang merahnya adalah

Feel We don’t know anything so we will know God anytime..

Chalangenya adalah bagaimana kita menjaga rasa tidak tahu apa-apa itu ?


salam
budi





Posted in Samudera Biru on June 21, 2006 by boday

Hewan perlu berkembang biak… manusia juga
Hewan perlu makan….. manusia juga
Induk (orang tua) hewan mencarikan makan untuk anaknya…. manusia juga
Induk (orang tua) mengajari anaknya berburu (mencari makan)… manusia juga

lalu dimanakah beda manusia (kita) dengan hewan ?

Kesombongan, iri dengki tumbuh dengan cerdas dalam lubuk kita

Posted in Samudera Biru on February 28, 2006 by boday

Kesombongan, iri dan dengki adalah teman akrab yang bisa tumbuh berkembang dengan cerdas dalam lubuk hati kita. Cerdas untuk membuat sebuah pembenaran bahwa iri dan dengki itu benar, kesombongan yang muncul karena butuh perhatian akan eksistensi diri. Sering kali sombong ini begitu halus dalam benak kita merubah wujuda dalam bentuk pengakuan eksistensi. Iri dan dengki bisa berkembang sangat cepat apabila kita kasih ruang sedikit saja, iri dan dengki bisa menguasai akal sehat kita, dia bisa membunuh kita pelan-pelan tenggelam dalam ketidak eksisan. Iri dan dengki biasanya muncul karena merasa ada ancaman akan eksistensi diri, takut terkalahkan, takut tersaingi, takut disamai.

Kesombongan,iri dan dengki berbahan bakar kesakit hatian dan berbuahkan kebencian yang ujungnya hanya ingin memuaskan nafsu “rasa ingin eksis” yang fana. Kesombongan, iri dan dengki tidak pernah ada ujung puasnya karena dia terlalu kreatif untuk selalu membuat ujung menjadi pangkal yang lain.

Kenapa kita ketakutan akan eksistensi harus terekspresikan dalam bentuk iri dan dengki ? bukankah kita sudah lahir didunia ini sudah menunjukkan eksistensi kita ? Kalau memang kita ingin eksis pada porsi eksistensi di koordinat lain mari kita belajar pada orang yang sudah pada koordinat eksistensi yang kita inginkan.

Mengapa kita takut “dianggap” miskin atau “dianggap” bodoh, mengapa kita harus merasa hina kalau dianggap miskin atau dianggap bodoh. Kalaupun kita memang miskin atau bodoh mari kita terima itu dengan iklas dan kalau memang kita tidak ingin miskin atau bodoh mari kita belajar pada orang yang kaya atau orang yang pintar. Kalau kita merasa kurang bijak mari kita belajar pada orang yang bijak.

Menerima secara terbuka untuk jujur pada diri sendiri memang tidak mudah tapi bukan hal yang mustahil, kejujuran pada diri sendiri akan membuat kita akrab dengan diri kita sendiri kita akan lebih mesra dengan diri kita.

Jujur pada diri sendiri akan membuat rasa sombong, iri dan dengki menjadi terkendali….